INTEGRASI ILMU SOSIAL BUDAYA DENGAN ISLAM
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) integrasi adalah pembauran hingga menjadi kesatuan yg utuh atau bulat. Sehingga integrasi antara ilmu sosial budaya dengan islam, yaitu memadukan pengetahuan tentang suatu masyarakat beserta pikiran maupun adat istiadatnya dengan agama islam.
Islam adalah agama yang pada dasarnya mentransformasikan, tidak mencipta, komunitas tertentu. Kajian agama dalam masyarakat-masyarakat berskala kecil yang dianalisis oleh para ahli antropologi sosial secara sederhana dapat dilihat perkembangannya dari karya perintis Durkheim. Ia berkesimpulan bahwa sasaran-sasaran keagamaan adalah lambang-lambang masyarakat, kesakralannya bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh masyarakat secara keseluruhan bagi setiap anggotanya, dan fungsinya adalah mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial.
Meskipun suatu agama itu diajarkan oleh Nabi yang satu dan kitab suci yang satu pula, tetapi semakin agama tersebut berkembang dan semakin besar jumlah penganut serta semakin luas daerah pengaruhnya, maka akan semakin sukar pula kesatuan wajah dari agama tersebut dapat dipertahankan. Karena, sewaktu ajaran dari agama yang berasal dari ‘langit’ itu hendak dilandingkan ke dataran empirik, maka mau tidak mau harus dihadapkan dengan serangkaian realitas sosial budaya yang seringkali tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama yang hendak dikembangkan.
Islam adalah wahyu dan teladan Nabi Muhammad SAW, yang dikodifikasikan menjadi Al-Qur’an dan Hadits. Korpus Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW yang telah diakui kesahihannya, dinyatakan tidak berubah dari dulu hingga kini. Tapi yang bisa berubah dan akan terus berkembang adalah interpretasi tentang islam, dari waktu ke waktu dan kerapkali juga dipengaruhi oleh faktor tempat. Islam selama ini dicerminkan terutama dalam ilmu kalam, lebih khusus lagi ilmu tauhid, aqoid, dan ushuluddin, dalam ilmu fiqih dan dalam tasawuf. Islam yang diwujudkan dalam peradaban dan kebudayaan yang dikembangkan oleh para penganutnya dalam arti luas, termasuk peradaban dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh ajaran islam, walaupun tidak diciptakan oleh kaum muslimin.
Islam adalah sebuah agama, ad-din. Dari sudut ilmu-ilmu sosial, paling tidak ada dua pendekatan yang dominan mengenai definisi agama. Pertama, adalah pendekatan Marx Weber, seorang sosiolog dan Paul Tillich, seorang teolog modern, yang melihat agama sebagai kesatuan jawaban yang terpadu (coherent) tentang dilema eksistensi manusia: kelahiran atau kehadirannya di dunia, penderitaannya dan akhirnya kematiannya, jawaban mana memberikan arti hidup bagi manusia. Kedua, adalah pendekatan fungsional, terutama yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, seorang sosiolog, yang melihat agama dari fungsi sosialnya. Disini agama didefinisikan sebagai suatu sistem kepercayaan dan ritual yang berkaitan dengan yang suci (the sacred). Agama dalam hal ini berfungsi mengikat masyarakat bersama-sama dalam kelompok-kelompok.
Di Indonesia, agama, khususnya islam, sebelum abad ke-20, sudah merupakan bagian dari masyarakat dan bagian dari tradisi yang mengikat masyarakat dan memberikan rasa identitas. Tapi, islam lebih dari itu juga menjadi sumber inspirasi bagi perubahan sosial dan menimbulkan ide perlawanan kepada kekuasaan kolonial. Dalam sejarah perkembangan islam, kegiatan pemikiran, yakni interpretasi terhadap ajaran islam, yang menimbulkan berbagai aliran teologi itu, sebagaimana dikatakan oleh Dr. Harun Nasution , timbul karena peristiwa dan perkembangan politik yang dilatarbelakangi oleh mobilitas sosial yang terjadi karena perkembangan dakwah islam di satu pihak, dengan pelapornya kaum ulama, dan ekspansi kekuasaan yang digerakkan oleh para tokoh politik. Di Indonesia, persoalan-persoalan sosial-politik pada awal abad ke-20, juga merangsang timbulnya pemikiran teologis.
Selanjutnya, berbicara mengenai budaya dan ranah sosial, tidak bisa lepas dari sebuah tradisi, yang mana merupakan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan oleh masyarakat. Maka sebuah tradisi inilah yang menjadi pedoman bagi suatu masyarakat.
Tradisi adalah seperangkat sistem perilaku, kepercayaan, kelembagaan atau ketrampilan yang dialihkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi sesudahnya dan dirasakan sebagai warisan bersama dalam kelompok-kelompok sosial di Nusantara.
Sedangkan Ilmu sosial adalah ilmu yang berhubungan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Termasuk ilmu sosial adalah seluruh kegiatan masyarakat mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas untuk kegiatan keperluan sesama manusia. Islam telah tampil sebagai agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara hubungan manusia dengan manusia, antara urusan ibadah dan muammalah dalam arti luas.Keterkaitan agama dengan kemanusiaan menjadi penting, jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan pada zaman ini.
Sehingga jika berbicara mengenai integrasi ilmu sosial budaya dengan islam adalah dengan cara mengkaji apa saja tradisi yang dilakukan oleh suatu kelompok atau masyarakat. Setelah itu maka seseorang akan bisa memadukan pengetahuan tentang suatu masyarakat beserta pikiran maupun adat istiadatnya dengan agama islam.
Seperti sebuah contoh mengenai budaya yang sudah mengakar pada suatu kaum. Di Indonesia sendiri memang bukan merupakan negara islam, pada zaman dahulu telah ada agama hindu dan budha. Sehingga kebanyakan ranah sosial beserta kebudayaan orang hindu dan budha akan diakulturasikan dengan ajaran islam yang datang setelah agama hindu dan budha itu sendiri.
Dalam islam, pemberian sedekah merupakan salah satu dari lima perintah yang dibebankan pada anggota-anggota keimanan. Pemberian sedekah juga menjadi “perbuatan baik” yang diperintahkan dalam hinduisme kuno. Dalam budhisme kuno, pemberian sedekah ini hanyalah sebagai aktivitas kaum awam yang benar-benar penuh arti.
Tradisi telah banyak dijadikan sebagai sumber referensi, termasuk oleh tokoh-tokoh yang berpandangan modern seperti Hatta dan Supomo. Dalam banyak kasus, tradisi malahan diidealisasikan dalam rangka modernisasi. Sebagai contoh, lembaga kegotongroyongan dan nilai kekeluargaan telah dikembangkan menjadi konsep negara integralistik, sistem ekonomi pancasila dan lembaga koperasi. Lembaga tradisional pesantren juga diidealisasikan menjadi agen pembangunan.
Bagi kaum tradisi umumnya dan kaum muslimin, proses modernisasi tetap tak bisa dihindarkan. Namun, mereka sadar terhadap berbagai unsur yang dianggap negatif dalam modernitas. Karena itu modus yang ditempuh untuk menghadapi dimensi budaya adalah “membumikan” atau “mempribumisasikan” ajaran islam, dalam arti memberikan warna budaya dalam pelaksanaan ajaran-ajaran islam, tanpa merusak esensinya, menyeleksi unsur-unsur modernitas yang dianggap bermanfaat dan meninggalkan yang negatif dan mengaktualisasikan dan memodernisasikan unsur-unsur tradisi. Itulah arah sintesa yang selama ini ditempuh.
Kemudian membahas tentang kebudayaan. Dimana dari penjelasan mengenai tradisi merupakan suatu ajaran yang dianut oleh seseorang atau kelompok untuk menciptakan keselarasan dalam kehidupan.
Kebudayaan menunjukkan suatu pengertian yang luas dan kompleks. Di dalamnya tercakup baik segala sesuatu yang terjadi dalam dan dialami oleh manusia secara personal dan secara kolektif, maupun bentuk-bentuk yang di manifestasikan sebagai ungkapan pribadi seperti yang dapat kita saksikan dalam sejarah kehidupannya, baik hasil-hasil pencapaian yang pernah ditemukan oleh umat manusia dan diwariskan secara turun-temurun, maupun proses perubahan serta perkembangan yang sedang dilalui dari masa ke masa.
Ilmu pengetahuan adalah produk budaya. Oleh karena itu, ia dapat menjalankan fungsinya dengan tepat, apabila diletakkan dalam konteks budaya. Ini berarti pertumbuhan dan perkembangannya terjadi berkat dukungan faktor-faktor budaya lainnya. Tanpa dukungan tersebut, ilmu pengetahuan sulit mendapatkan iklim yang memberi kesegaran hidup. Dengan kata lain ilmu pengetahuan harus dilihat secara konstektual, artinya tidak bisa dianggap sebagai kenyataan budaya yang berdiri sendiri lepas dari konteksnya, melainkan berada dalam kondisi tertentu.
Dengan melihat manusia beserta kebudayaannya, islam tidaklah memandang dari satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang ditiupkan Allah kedalam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dalam firman Allah
• • • •
Artinya: “7. yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
8. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.
9. kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Allah-lah Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menciptakan keturunannya dari saripati air yan hina ( air mani ). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam ( tubuh )-nya roh ( ciptaan)-Nya. Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakan suatu kebudayaan. Sehingga islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia. Sedang agama adalah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama.
Sebuah komunikasi, saling terhubung, sejalan, searah. Agama secara sempit berarti undang-undang atau hukum. Dalam Bahasa Arab berarti menundukkan, patuh menguasai, hutang. Ilmu pengetahuan secara bahasa yaitu seperangkat ilmu yamg tersusun secara sistematis, dapat dimanfaatkan semua orang pada tempat yang sama maupun berbeda dengan hasil yang sama. Khurashid Ahmad berpendapat bahwa pengetahuan adalah seperangkat pengalaman, yang mengatur, memimpin mengarahkan kearah kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Kholiq.
Karakteristik ajaran islam dapat dilihat dari ajaran di bidang ilmu sosial. Ajaran Islam dibidang ilmu sosial termasuk paling menonjol, karena seluruh bidang ajaran Islam pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia.Dalam ilmu Sosial ini, Islam dituntut untuk menjunjung tinggi sifat tolong menolong, saling menasehati tentang hak dan kesabaran, kesetiakawanan, egaliter (kesamaan derajat), tenggang rasa dan kebersamaan, saling tolong menolong, serta menciptakan kehidupan sosial yang baik.
Islam menilai bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka Kifaratnya (tebusan) adalah dengan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan urusan sosial. Apabila puasa tidak mampu dilakukan karena sakit dan sulit diharapkan sembuhnya, maka boleh diganti dengan Fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Sebaliknya, bila orang tidak baik dalam urusan muamalah, urusan ibadahnya tidak dapat menutupnya. Merampas hak orang lain tidak dapat menghapus dosanya dengan sholat tahajud. Membunuh orang pada zaman Nabi maka dendanya ialah memerdekakan budak. Itulah pentingnya ilmu sosial dan sangat erat sekali dengan agama Islam. Sehingga Islam telah tampil sebagai agama yang mamberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akherat, antara hubungan manusia dengan Tuhan dan antara hubungan manusia dengan manusia, antara urusan ibadah dengan urusan muammalah.
Jika diadakan perbandingan antara perhatian Islam terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata islam menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah dalam arti yang khusus Islam lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial dari pada aspek kehidupan ritual. Dapat dilihat betapa islam sangat tenggang rasa dalam proses kehidupan ini.
Jadi, sangat penting sekali fungsi urgensi dan sebuah budaya dalam proses kehidupan ini. Terutama integrasi antara ilmu sosial budaya dengan agama islam yang telah dibahas. Sehingga bisa melahirkan sebuah agama yang bisa diterima dan dijadikan pedoman oleh masyarakat. Yaitu, agama islam yang telah menjadi agama rahmatan lil ‘alamin, merupakan rahmat bagi seluruh alam. Islam yang membawa kedamaian, orang-orang budaya yang mempunyai etika dan sopan-santun untuk saling bersosial. Masyarakat yang selalu berinteraksi dengan baik kepada sesama, dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Scharf, Betty. R. 1995. Kajian Sosiologi Agama. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Pranowo, Bambang. 1998. Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Ali, Mukti dkk. 1998. Agama dalam Pergumulan Masyarakat Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Yamin, Muhammad. 2002. Sosiologi Agama. Terjemah dari “Max Weber, The Sosiologi of Religion”. Yogyakarta: IRCiSoD.
Poespowardojo, Soerjanto. 1993. Strategi Kebudayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Senin, 30 Juni 2014
Kamis, 05 Juni 2014
Unifikasi Pendidikan Agama Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam
16.17
No comments
Unifikasi adalah proses penyatuan
terhadap dua unsur yang dianggap berbeda, atau bahkan lebih dari dua unsur,
yang mana dengan penyatuan tersebut unsur-unsur itu dapat berjalan secara
beriringan dan bersamaan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), unifikasi
disebutkan sebagai hal yang menyatukan, sebuah penyatuan, dan hal yang
menjadikan seragam. Sehingga adanya penyatuan antara pendidikan agama islam
dengan ilmu pengetahuan alam merupakan sebuah langkah yang dapat menjadikan
pendidikan menjadi lebih baik dan berkualitas.
Sebagaimana telah diketahui Secara etimologi kata pendidikan
berasal dari kata "didik" yang mendapat awalan "pe"
dan akhiran "an", maka jadilah kata pendidikan. Sehingga kata ini
mempunyai arti proses atau cara dan perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi
pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia)
menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di
dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta
didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya
di masa yang akan datang.
Sedangkan terkait dengan agama, yaitu adalah suatu ajaran, sistem
yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya. Agama islam adalah agama yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW dan ajarannya adalah untuk semua umat. Rasulullah SAW sebagai
utusan Allah terakhir yang dengan gigih menyebarkan agama islam telah membawa
banyak perubahan bagi dunia, terlebih kita sebagai umat islam.
Setelah mengetahui adanya tuntunan sebagai manusia untuk
berhubungan dengan lingkungannya maka hal ini sangat berkaitan dengan ilmu
pengetahuan yang semakin berkembang kini, yaitu ilmu pengetahuan alam.
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan
gejala tertentu di bidang pengetahuan. Alam semesta ini adalah lingkungan kita,
sehingga dengan ajaran pendidikan agama islam yang suci dan pengetahuan alam/
sains yang semakin maju kini semua manusia akan lebih mengerti tentang ke-esaan
Allah SWT. Terlebih bagi peserta didik, mereka akan semakin mengerti tentang
agama islam dan lingkungan, hingga alam semesta.
Memadukan Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah satu pemikiran
yang didasarkan pada asumsi bahwa pengembangan IPA dalam konteks ke-Islam-an
merupakan suatu keharusan bagi kelanjutan peradaban umat manusia yang harmonis
di masa depan. Islam adalah agama yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi
dalam hal pengkajian berbagai fenomena alam. Beberapa ilmuwan Muslim yang telah
mengukir namanya dalam sejarah Ilmu Pengetahuan Alam adalah merupakan bukti
tentang bagaimana Islam sebagai agama universal yang sangat konsen dengan
pengembangan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman. Agama Islam telah memberi
pilihan dan panduan kepada manusia tentang jalan hidup yang akan dilaluinya.
Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan lebih bijaksana untuk menentukan
pilihan-pilihan hidup. Nabi Muhammad SAW (Salallahu‘Alaihi Wassalam) bersabda “Ilmu
tanpa iman bencana, iman tanpa ilmu gelap”. Dengan demikian harus dilakukan
pengkajian fenomena alam dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan alam dalam
konteks mempertebal iman, takwa, dan sikap rohaniyah kepada Tuhan dengan
berpijak pada sejarah bagaimana kejayaan Islam dalam penguasaan dan pengembangan
ilmu pengetahuan sejak zaman pertengahan hingga sekarang adalah merupakan
kesinambungan dan perubahan.
Arti penting IPA dan teknologi bagi
tugas-tugas kekhalifahan manusia di masa depan kian terasa, bila kita benturkan
dengan kondisi-kondisi lingkungan demografis di sekitar kita. Jumlah penduduk
yang kian bertambah, sementara besar bola bumi tetap sama, dan demikian juga
dengan tanah, air, dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya tidak
bertambah, maka pemanfaatan teknologi merupakan suatu keniscayaan agar manusia
dan makhluk lain tetap bertahan hidup (Ibrahim, 1994).
Dalam konteks pengembangan IPA (Ilmu
Pengetahuan Alam) dan teknologi, peran agama (baca: Islam) sangat terasa jika
kita mempertimbangkan agama secara totalitas sebagai jalan hidup, sebagai
pemberi makna kehidupan yang akan memberikan kepada kita bimbingan etika,
termasuk etika pengembangan dan pemanfaatan IPA dan teknologi. Hasil IPA dan teknologi
yang begitu mencengangkan memang mampu memberi kita sampai ke benua Amerika
Serikat dalam waktu yang singkat. Namun demikian, IPA dan teknologi tidak bisa
memberi kita bimbingan untuk apa dan akan berbuat apa kita di sana. IPA dan
teknologi memang mampu menjelaskan tentang apa yang mungkin dan bisa kita
lakukan, tetapi ianya tidak bisa menjelaskan mana yang baik dan mana yang benar
untuk dilakukan (Ghulsyani, 1986).
Bimbingan agama (Islam) kian
dibutuhkan dalam era bio-teknologi, di mana manusia dengan otak dan ototnya bisa
menghasilkan beragam peralatan dan produk barang canggih, tapi juga masih bisa
mengutakatik benda hidup. Di sini kajian keagamaan amat diperlukan. Misalnya saja,
bioteknologi sudah memungkinkan dikembangkannya bank sperma. Bahkan tidak lagi
merupakan sesuatu yang asing bahwa di koran kampus, di beberapa negara, sudah
diiklankan tentang “dicari seorang pemuda yang sehat dan berbakat
untuk diambil spermanya”. Juga sudah bukan berita baru lagi tentang adanya
penyewaan atau penitipan bayi di rahim wanita lain (Muhammad Nahadi, Farida
Sarimaya, Sri R Rosdianti, 2011).
Pada abad ke-20, terjadi hubungan
yang lebih harmonis antara agamawan dan ilmuwan. Temuan-temuan dalam bidang IPA
dan teknologi yang kasat mata membuat ilmuwan percaya pada banyak hal yang tak terjangkau
oleh indera. Hal ini terutama muncul ketika disadari bahwa isi alam semesta
terdiri dari atom-atom yang dapat diteliti lagi menjadi sub atom. Hal ini
membuat para ahli terperangah bahwa hal yang harus dipercayai adalah tanpa
harus ditangkap oleh indera, termasuk elektron, cahaya gelombang radio, dan sebagainya.
Gerakan para saintis religius yang tiba-tiba muncul di seluruh penjuru dunia
Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi (IPTEK) adalah bagian dari kebudayaan. Oleh
karena itu, seperti juga unsur kebudayaan yang lain, corak dan perkembangannya sangatlah
dipengaruhi oleh dan mempengaruhi masyarakat di mana ia dikembangkan (Rakhmat,
1991).
Sumbangan ilmuwan muslim terhadap
perkembangan IPA sangat banyak seperti, para ilmuwan muslim yang telah menerjemahkan
dan mempelajari tulisan-tulisan tentang alkimia, baik dari Yunani maupun
dari Mesir, ahli kimia Muslim menyadari bahwa alkimia yang dilakukan
oleh orang-orang Yunani dan Mesir pada zaman purba itu bersifat spekulatif bercampur
mistik. Oleh karena itu para ahli kimia Muslim menentangnya dan mereka
melakukan eksperimen yang kemudian menghasilkan zatzat kimia baru yang dikenal
antara lain sebagai: asam, basa, alkohol, dan garam. Istilah alkali untuk
basa berasal dari kata Arab “al-kali” yang berarti abu tumbuhan, dan natrium
hidroksida adalah basa penting yang telah dibuat oleh ilmuwan
Muslim. Mereka juga telah membuat beberapa senyawa dalam jumlah besar, baik
untuk keperluan ilmiah maupun pengobatan. Senyawa mineral yang telah disintesis
antara lain besi sulfat, merkuri sulfida, merkuri oksida, tembaga sulfat,
tembaga sulfida, natrium bikarbonat, dan kalium sulfide. Selain itu, ilmuwan
Muslim membuat kertas dari kapas karena kayu sangat jarang terdapat di wilayah
Timur Tengah. Mereka telah mampu mengolah kapas dengan bahan-bahan kimia
melalui proses kimia dalam jumlah besar, sehingga dalam abad pertengahan telah
dapat dibuat jutaan buku. Penemuan pembuatan kertas dengan cara ini telah
membuka cakrawala baru dalam peradaban manusia. Teknologi pembuatan kertas ini
kemudiandipelajari dan dikembangkan oleh para ilmuwan di Eropa. Para ahli kimia
Muslim kemudian membuat bahan peledak dari saltpeter dengan menambahkan belerang,
karbon, dan bahan kimia lainnya. Pada abad ke-10 M, mereka menemukan nitrogliserin
yang juga merupakan bahan peledak. Hasil penemuan mereka ini diperkenalkan
kepada dunia Barat dan pada abad ke-13 M, Roger Bacon, seorang ahli kimia
Eropa, berhasil membuat dan mengembangkan pembuatan bahan peledak ini.
Dengan demikian, dalam periode Islamlah
para ilmuwan Muslim telah mempelopori perkembangan ilmu kimia dan teknologi
kimia. Di antara mereka yang berjasa dalam hal ini ialah Jabir Ibnu Hayyan,
Al-Kindi, dan Ar-Razi (Nasr, 1983; dan UNESCO, 1986).
Jabir Ibnu Hayyan merupakan seorang
ahli kimia Muslim pada awal perkembangan kimia. Ia dilahirkan pada tahun 721
dan meninggal pada tahun 815. Di Eropa, ia dikenal dengan sebutan Geber.
Pada abad ke-8 M, yaitu semasa hidupnya, perkembangan pengetahuan termasuk
kimia masih belum tampak nyata. Pada masa itulah Jabir Ibnu Hayyan telah melakukan
banyak eksperimen dan membuat catatan yang sistematis atas observasi dan hasil
eksperimennya. Ia boleh dikatakan telah merintis empirisme sebagai metodologi
ilmiah. Untuk melakukan eksperimeneksperimennya, Jabir Ibnu Hayyan mendirikan
sebuah laboratorium, karena ia berpendapat bahwa eksperimen merupakan aspek
penting dalam kimia. Baginya, nilai ilmu kimia ditentukan oleh apa yang telah
diuji dan dibuktikan kebenarannya melalui eksperimen. Tanpa eksperimen, kimia
tidak ada artinya, itulah pendapat Jabir Ibnu Hayyan (Nasr, 1983; UNESCO, 1986;
dan Soemodimedjo & Poedjiadi, 2000).
Jabir Ibnu Hayyan juga seorang ahli dalam
bidang astronomi, matematika, logika, botani, farmakologi, dan kedokteran.
Penguasaannya terhadap Bahasa Yunani menunjang kegiatan dalam melakukan
penerjemahan dan menulis tanggapan terhadap buku karya ilmuwan Yunani. Namun
demikian, ia lebih terkenal sebagai ahli kimia dan memperoleh sebutan “Bapak
Kimia Islam” dan pendiri laboratorium kimia pertama (Soemodimedjo &
Poedjiadi, 2000).
Sementara itu, Al-Kindi dilahirkan
pada tahun 809 ketika ayahnya menjabat sebagai Gubernur di Kufah. Sejak usia
muda, ia telah menunjukkan kecakapan dan minatnya terhadap ilmu pengetahuan
serta ketekunan belajar. Ia pindah ke kota Basra untuk menuntut ilmu yang lebih
banyak. Kota Basra, yang didirikan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 638,
terletak di wilayah sungai Tigris dan Eufrat. Pada masa itu kota Basra terkenal
sebagai pusat kegiatan intelektual. Setelah itu Al-Kindi pindah ke kota Bagdad
untuk menyelesaikan pelajarannya (Hodgson, 1974; dan Lapidus, 1991).
Al-Kindi dikenal sebagai seorang
filsuf Islam dan juga seorang ahli ilmu pengetahuan alam. Hasil karyanya
meliputi berbagai bidang, antara lain astronomi, meteorologi, kedokteran, geometri,
matematika, dan logika. Ia juga seorang ahli kimia yang menentang pemikiran dan
praktek alkimia yang dilakukan oleh orang-orang di Yunani dan menolak
pendapat orang-orang Yunani itu tentang adanya perubahan logam biasa menjadi
logam mulia. Hasil karya Al-Kindi dalam bidang fisika yang terkenal ialah
tentang optika. Tulisannya tentang optika itu sangat dikagumi dan dijadikan
acuan oleh Roger Bacon dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bidang fisika
(Soemodimedjo & Poedjiadi, 2000).
Islam memandang alam sebagai milik
Allah yang wajib disyukuri dengan menggunakan dan mengelola alam
sebaik-baiknya, agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan
demikian perlu ditanamkan konsep keimanan kepada anak sedini mungkin, tentang
pentingnya memelihara dan menjaga keseimbangan alam, serta memelihara
kebersihan dan keindahan lingkungan agar tetap nyaman dan indah sebagai wujud
ketaatannya kepada Allah. Penanaman nilai-nilai keimanan, mu’amalah, dan akhlak
yang berkaitan dengan aspek pola perilaku manusia dengan alam secara normatif
terlihat pada materi pelajaran IPA dan sains yang telah dikembangkan dan
dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang pentingnya memelihara dan menjaga
kelestarian alam dan larangan merusaknya. Secara aplikatif penanaman
nilai-nilai mu’amalah yang berkaitan dengan sikap dan perilaku siswa kepada
lingkungan alam terlihat diberikan melalui pembagian jadwal piket harian siswa
dalam menjaga kebersihan ruangan kelas di masing-masing kelas (Lukman Hakim,
2012).
Dalam sejarah intelektual Islam,
perkembangan sains dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari konteks
implementasi nilai-nilai religiusitas. Dalam hal ini ada dua kata kunci untuk
memahami hubungan antara perkembangan sains dan teknologi dengan nilai-nilai
religiusitas dalam Islam, yaitu: tafakur dan tasykir.
Tafakur, dalam konteks IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), adalah berefleksi, berpikir
tentang dan menemukan hukum-hukum alam. Sedangkan tasykir adalah
memperoleh penguasaan atas alam dengan bantuan sains dan teknologi. Kedua terma
tersebut, dalam sejarah umat Islam sepanjang zaman, merupakan dorongan-dorongan
terpadu seluruh umat manusia.
Adalah keagungan Islam pula bahwa
Al-Qur’an, dengan perintah yang diulang berkali-kali, mengandung suruhan untuk
ber-tafakur dan ber-tasykir dalam konteks untuk mengejar, menguasai,
dan mengamalkan sains dan teknologi sebagai kewajiban atas masyarakat Muslim.
Umat Islam juga telah mengenal kredo yang memadukan antara amal saleh dengan
sains dan teknologi, yaitu: “ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah”.
Hubungan antara Islam sebagai agama
dengan IPA dan teknologi sebagai buah kreatifitas pikiran dan praktek umat
manusia, dalam hal ini ada 5 (lima) pendekatan yang dapat dikedepankan sebagai
berikut:
1.
Bahwa
Islam sesungguhnya adalah agama yang sangat mendorong, membangkitkan,
merangsang, dan mengilhami penemuan IPA dan teknologi. Pernyataan Abdus Salam
yang dikutip di atas merupakan contoh pendekatan ini. Pendekatan ini juga sudah
sering dilakukan oleh banyak orang. Kitab-kitab di Pesantren – sejak “Kitab
al-Ilmi” dalam Miftah al-Khitabah wa al-Wa’zh, atau “Kitab al-Ilmi”
dalam Tafsir al-Wushul, sampai “Kitab al-Ilmi” dalam Ihya Ulumuddin –
banyak membicarakan hal ini dengan merujuk kepada Al-Quran dan Al-Hadist.\
2.
Dalam
perspektif sejarah, Islam juga telah begitu banyak memberikan sumbangan yang
sangat berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Inipun
sudah banyak dibicarakan, mulai dari Jabir Ibnu Hayyan dan Al-Kindi pada zaman
dahulu sampai dengan Abdus Salam sendiri pada zaman terkini.
3.
Ada
hubungan yang sangat erat antara falsafi, Islam, dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi). Islam tidak hanya memberikan landasan aksiologis, tetapi juga
sampai pada epistemologi dan ontologi dalam sains dan teknologi.
4.
Ada
bentuk IPTEK yang Islami atau justru IPTEK merupakan hasil ikhtiar dan ibadah
manusia dengan Islam sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi umat manusia bagi
kemajuan, kesejahteraan, dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
5.
Islam
dan IPTEK merupakan dua hal yang sangat harmonis dan akan saling mendukung
untuk terus berkembang pada setiap episod sejarah kehidupan manusia.
Islam, dengan kitab suci Al-Qur’an,
sesungguhnya memberikan etika dan tujuan pengembangan IPTEK yang secara
sistematis dapat dibagi dua. Pertama, untuk membantu manusia mendekatkan
diri kepada Allah SWT (Subhanu Wa Ta’ala); dan kedua, untuk
membantu manusia menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi (Ghulsyani,
1986).
Islam adalah agama yang menjadi
sumber inspirasi dan motivasi dalam hal pengkajian berbagai fenomena alam.
Beberapa ilmuwan Muslim yang telah mengukir namanya dalam sejarah IPA (Ilmu
Pengetahuan Alam), seperti Jabir Ibnu Hayyan dan Al-Kindi, adalah merupakan
bukti tentang bagaimana Islam sebagai agama universal yang sangat hirau dengan pengembangan
ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan dengan
kesempurnaan akal pikirannya, di dalam ajaran Islam, dianjurkan untuk membaca
ayat-ayat yang tersirat lewat fenomena dan keteraturan alam. Dengan
kajian-kajiannya yang kemudian menjadi IPA dan terderivasikan dalam wujud
teknologi, kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan sejahtera. Dengan
mengetahui dan merenungi berbagai keteraturan dan fenomena alam yang ada akan menimbulkan
keimanan, ketakwaan, dan kesadaran rohaniyah dalam diri manusia bahwa betapa
kecilnya makhluk manusia dan betapa besarnya Tuhan sebagai pencipta alam
semesta serta segala isinya.
Agama Islam adalah agama
keselamatan. Agama Islam telah memberi pilihan dan panduan kepada manusia
tentang jalan hidup yang akan dilaluinya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan
lebih bijaksana untuk menentukan pilihan-pilihan hidup: “Hidup dengan
pengembangan ilmu atau tidak. Hidup dengan ajaran Islam atau tidak. Dan
hidup dengan pengembangan ilmu yang didasari ajaran Islam atau tidak”.
Dengan demikian harus dilakukan pengkajian fenomena alam dalam rangka
pengembangan IPA dalam konteks mempertebal iman, takwa, dan sikap rohaniyah kepada
Tuhan dengan berpijak pada sejarah bagaimana kejayaan Islam dalam penguasaan
dan pengembangan ilmu pengetahuan sejak zaman pertengahan hingga sekarang adalah
merupakan kesinambungan dan perubahan.
Jadi, unifikasi antara pendidikan
agama islam dengan ilmu pengetahuan alam akan sangat sesuai dengan segala
sesuatu yang terjadi di dunia kini, mengingat betapa cepatnya perkembangan
pemikiran yang dilakukan oleh manusia. Sehingga sangat jelas bagaimana antara
pendidikan agama islam dan ilmu pengetahuan alam tidak bisa dipisahkan begitu
saja, mengingat betapa sakralnya islam, dan betapa vitalnya pengetahuan tentang
kehidupan manusia ini. Oleh karena itu, proses penyatuan pendidikan agama islam
dengan ilmu pengetahuan harus direalisasikan kepada semua kalangan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Djudin,
Tomo. Menyisipkan Nilai-Nilai Agama dalam Pembelajaran Sains: Suatu
Alternatif “Memagari” Keimanan Siswa. http://jurnal.untan.ac.id, 13 April 2014.
Hakim, Lukman,
2012. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembentukan Sikap dan
Perilaku Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya.
Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, Vol. 10, No. 1.
Nahadi,
Muhammad, Farida Sarimaya, dan Sri R Rosdianti, 2011. Hubungan Islam dengan
Ilmu Pengetahuan Alam dalam Perspektif Sejarah. Atikan, Volume 1, No. 1.
http://atikan-jurnal.com/wp-content/uploads/2011/05/02.hadi_.ida_.sri_.atikan.jun_.11.pdf,
12 April 2014.
Nasrurrohman, Muhammad, 2010. Merubah Peradaban
dengan Pendidikan Islam. http://www.jurnalanas.com,
12 April 2014.
Soedewo, 2007. Islam
dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Darul
Kutubil Islamiyah. http://aaiil.org/indonesia/indonesianbooksislamahmadiyya/soedewo/islamilmupengetahuan/islamilmupengetahuanislamsciences.pdf, 12 April 2014.
Rabu, 04 Juni 2014
IDENTITAS
17.05
No comments
Nama : M. Rudi Habibie
TTL : Nganjuk, 18 Juli 1995
Riwayat Pendidikan :
TTL : Nganjuk, 18 Juli 1995
Riwayat Pendidikan :
- TK Kusuma Mulia Sonorejo
- SDN Sonorejo 1
- SMPN 1 Grogol
- SMAN 3 Kediri
- UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Langganan:
Postingan (Atom)






