Blog Saya

Pages

Kamis, 05 Juni 2014

Unifikasi Pendidikan Agama Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam

Unifikasi adalah proses penyatuan terhadap dua unsur yang dianggap berbeda, atau bahkan lebih dari dua unsur, yang mana dengan penyatuan tersebut unsur-unsur itu dapat berjalan secara beriringan dan bersamaan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), unifikasi disebutkan sebagai hal yang menyatukan, sebuah penyatuan, dan hal yang menjadikan seragam. Sehingga adanya penyatuan antara pendidikan agama islam dengan ilmu pengetahuan alam merupakan sebuah langkah yang dapat menjadikan pendidikan menjadi lebih baik dan berkualitas.
Sebagaimana telah diketahui Secara etimologi kata pendidikan berasal dari kata "didik" yang mendapat  awalan "pe" dan akhiran "an", maka jadilah kata pendidikan. Sehingga kata ini mempunyai arti proses atau cara dan perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Sedangkan terkait dengan agama, yaitu adalah suatu ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agama islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ajarannya adalah untuk semua umat. Rasulullah SAW sebagai utusan Allah terakhir yang dengan gigih menyebarkan agama islam telah membawa banyak perubahan bagi dunia, terlebih kita sebagai umat islam.
Setelah mengetahui adanya tuntunan sebagai manusia untuk berhubungan dengan lingkungannya maka hal ini sangat berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang kini, yaitu ilmu pengetahuan alam.
Ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan. Alam semesta ini adalah lingkungan kita, sehingga dengan ajaran pendidikan agama islam yang suci dan pengetahuan alam/ sains yang semakin maju kini semua manusia akan lebih mengerti tentang ke-esaan Allah SWT. Terlebih bagi peserta didik, mereka akan semakin mengerti tentang agama islam dan lingkungan, hingga alam semesta.
Memadukan Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah satu pemikiran yang didasarkan pada asumsi bahwa pengembangan IPA dalam konteks ke-Islam-an merupakan suatu keharusan bagi kelanjutan peradaban umat manusia yang harmonis di masa depan. Islam adalah agama yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam hal pengkajian berbagai fenomena alam. Beberapa ilmuwan Muslim yang telah mengukir namanya dalam sejarah Ilmu Pengetahuan Alam adalah merupakan bukti tentang bagaimana Islam sebagai agama universal yang sangat konsen dengan pengembangan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman. Agama Islam telah memberi pilihan dan panduan kepada manusia tentang jalan hidup yang akan dilaluinya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan lebih bijaksana untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Nabi Muhammad SAW (Salallahu‘Alaihi Wassalam) bersabda “Ilmu tanpa iman bencana, iman tanpa ilmu gelap”. Dengan demikian harus dilakukan pengkajian fenomena alam dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan alam dalam konteks mempertebal iman, takwa, dan sikap rohaniyah kepada Tuhan dengan berpijak pada sejarah bagaimana kejayaan Islam dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan sejak zaman pertengahan hingga sekarang adalah merupakan kesinambungan dan perubahan.
Arti penting IPA dan teknologi bagi tugas-tugas kekhalifahan manusia di masa depan kian terasa, bila kita benturkan dengan kondisi-kondisi lingkungan demografis di sekitar kita. Jumlah penduduk yang kian bertambah, sementara besar bola bumi tetap sama, dan demikian juga dengan tanah, air, dan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya tidak bertambah, maka pemanfaatan teknologi merupakan suatu keniscayaan agar manusia dan makhluk lain tetap bertahan hidup (Ibrahim, 1994).
Dalam konteks pengembangan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan teknologi, peran agama (baca: Islam) sangat terasa jika kita mempertimbangkan agama secara totalitas sebagai jalan hidup, sebagai pemberi makna kehidupan yang akan memberikan kepada kita bimbingan etika, termasuk etika pengembangan dan pemanfaatan IPA dan teknologi. Hasil IPA dan teknologi yang begitu mencengangkan memang mampu memberi kita sampai ke benua Amerika Serikat dalam waktu yang singkat. Namun demikian, IPA dan teknologi tidak bisa memberi kita bimbingan untuk apa dan akan berbuat apa kita di sana. IPA dan teknologi memang mampu menjelaskan tentang apa yang mungkin dan bisa kita lakukan, tetapi ianya tidak bisa menjelaskan mana yang baik dan mana yang benar untuk dilakukan (Ghulsyani, 1986).
Bimbingan agama (Islam) kian dibutuhkan dalam era bio-teknologi, di mana manusia dengan otak dan ototnya bisa menghasilkan beragam peralatan dan produk barang canggih, tapi juga masih bisa mengutakatik benda hidup. Di sini kajian keagamaan amat diperlukan. Misalnya saja, bioteknologi sudah memungkinkan dikembangkannya bank sperma. Bahkan tidak lagi merupakan sesuatu yang asing bahwa di koran kampus, di beberapa negara, sudah diiklankan tentang “dicari seorang pemuda yang sehat dan berbakat untuk diambil spermanya”. Juga sudah bukan berita baru lagi tentang adanya penyewaan atau penitipan bayi di rahim wanita lain (Muhammad Nahadi, Farida Sarimaya, Sri R Rosdianti, 2011).
Pada abad ke-20, terjadi hubungan yang lebih harmonis antara agamawan dan ilmuwan. Temuan-temuan dalam bidang IPA dan teknologi yang kasat mata membuat ilmuwan percaya pada banyak hal yang tak terjangkau oleh indera. Hal ini terutama muncul ketika disadari bahwa isi alam semesta terdiri dari atom-atom yang dapat diteliti lagi menjadi sub atom. Hal ini membuat para ahli terperangah bahwa hal yang harus dipercayai adalah tanpa harus ditangkap oleh indera, termasuk elektron, cahaya gelombang radio, dan sebagainya. Gerakan para saintis religius yang tiba-tiba muncul di seluruh penjuru dunia Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi (IPTEK) adalah bagian dari kebudayaan. Oleh karena itu, seperti juga unsur kebudayaan yang lain, corak dan perkembangannya sangatlah dipengaruhi oleh dan mempengaruhi masyarakat di mana ia dikembangkan (Rakhmat, 1991).
Sumbangan ilmuwan muslim terhadap perkembangan IPA sangat banyak seperti, para ilmuwan muslim yang telah menerjemahkan dan mempelajari tulisan-tulisan tentang alkimia, baik dari Yunani maupun dari Mesir, ahli kimia Muslim menyadari bahwa alkimia yang dilakukan oleh orang-orang Yunani dan Mesir pada zaman purba itu bersifat spekulatif bercampur mistik. Oleh karena itu para ahli kimia Muslim menentangnya dan mereka melakukan eksperimen yang kemudian menghasilkan zatzat kimia baru yang dikenal antara lain sebagai: asam, basa, alkohol, dan garam. Istilah alkali untuk basa berasal dari kata Arab “al-kali” yang berarti abu tumbuhan, dan natrium hidroksida adalah basa penting yang telah dibuat oleh ilmuwan Muslim. Mereka juga telah membuat beberapa senyawa dalam jumlah besar, baik untuk keperluan ilmiah maupun pengobatan. Senyawa mineral yang telah disintesis antara lain besi sulfat, merkuri sulfida, merkuri oksida, tembaga sulfat, tembaga sulfida, natrium bikarbonat, dan kalium sulfide. Selain itu, ilmuwan Muslim membuat kertas dari kapas karena kayu sangat jarang terdapat di wilayah Timur Tengah. Mereka telah mampu mengolah kapas dengan bahan-bahan kimia melalui proses kimia dalam jumlah besar, sehingga dalam abad pertengahan telah dapat dibuat jutaan buku. Penemuan pembuatan kertas dengan cara ini telah membuka cakrawala baru dalam peradaban manusia. Teknologi pembuatan kertas ini kemudiandipelajari dan dikembangkan oleh para ilmuwan di Eropa. Para ahli kimia Muslim kemudian membuat bahan peledak dari saltpeter dengan menambahkan belerang, karbon, dan bahan kimia lainnya. Pada abad ke-10 M, mereka menemukan nitrogliserin yang juga merupakan bahan peledak. Hasil penemuan mereka ini diperkenalkan kepada dunia Barat dan pada abad ke-13 M, Roger Bacon, seorang ahli kimia Eropa, berhasil membuat dan mengembangkan pembuatan bahan peledak ini.
Dengan demikian, dalam periode Islamlah para ilmuwan Muslim telah mempelopori perkembangan ilmu kimia dan teknologi kimia. Di antara mereka yang berjasa dalam hal ini ialah Jabir Ibnu Hayyan, Al-Kindi, dan Ar-Razi (Nasr, 1983; dan UNESCO, 1986).
Jabir Ibnu Hayyan merupakan seorang ahli kimia Muslim pada awal perkembangan kimia. Ia dilahirkan pada tahun 721 dan meninggal pada tahun 815. Di Eropa, ia dikenal dengan sebutan Geber. Pada abad ke-8 M, yaitu semasa hidupnya, perkembangan pengetahuan termasuk kimia masih belum tampak nyata. Pada masa itulah Jabir Ibnu Hayyan telah melakukan banyak eksperimen dan membuat catatan yang sistematis atas observasi dan hasil eksperimennya. Ia boleh dikatakan telah merintis empirisme sebagai metodologi ilmiah. Untuk melakukan eksperimeneksperimennya, Jabir Ibnu Hayyan mendirikan sebuah laboratorium, karena ia berpendapat bahwa eksperimen merupakan aspek penting dalam kimia. Baginya, nilai ilmu kimia ditentukan oleh apa yang telah diuji dan dibuktikan kebenarannya melalui eksperimen. Tanpa eksperimen, kimia tidak ada artinya, itulah pendapat Jabir Ibnu Hayyan (Nasr, 1983; UNESCO, 1986; dan Soemodimedjo & Poedjiadi, 2000).
Jabir Ibnu Hayyan juga seorang ahli dalam bidang astronomi, matematika, logika, botani, farmakologi, dan kedokteran. Penguasaannya terhadap Bahasa Yunani menunjang kegiatan dalam melakukan penerjemahan dan menulis tanggapan terhadap buku karya ilmuwan Yunani. Namun demikian, ia lebih terkenal sebagai ahli kimia dan memperoleh sebutan “Bapak Kimia Islam” dan pendiri laboratorium kimia pertama (Soemodimedjo & Poedjiadi, 2000).
Sementara itu, Al-Kindi dilahirkan pada tahun 809 ketika ayahnya menjabat sebagai Gubernur di Kufah. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan kecakapan dan minatnya terhadap ilmu pengetahuan serta ketekunan belajar. Ia pindah ke kota Basra untuk menuntut ilmu yang lebih banyak. Kota Basra, yang didirikan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 638, terletak di wilayah sungai Tigris dan Eufrat. Pada masa itu kota Basra terkenal sebagai pusat kegiatan intelektual. Setelah itu Al-Kindi pindah ke kota Bagdad untuk menyelesaikan pelajarannya (Hodgson, 1974; dan Lapidus, 1991).
Al-Kindi dikenal sebagai seorang filsuf Islam dan juga seorang ahli ilmu pengetahuan alam. Hasil karyanya meliputi berbagai bidang, antara lain astronomi, meteorologi, kedokteran, geometri, matematika, dan logika. Ia juga seorang ahli kimia yang menentang pemikiran dan praktek alkimia yang dilakukan oleh orang-orang di Yunani dan menolak pendapat orang-orang Yunani itu tentang adanya perubahan logam biasa menjadi logam mulia. Hasil karya Al-Kindi dalam bidang fisika yang terkenal ialah tentang optika. Tulisannya tentang optika itu sangat dikagumi dan dijadikan acuan oleh Roger Bacon dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bidang fisika (Soemodimedjo & Poedjiadi, 2000).
Islam memandang alam sebagai milik Allah yang wajib disyukuri dengan menggunakan dan mengelola alam sebaik-baiknya, agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan demikian perlu ditanamkan konsep keimanan kepada anak sedini mungkin, tentang pentingnya memelihara dan menjaga keseimbangan alam, serta memelihara kebersihan dan keindahan lingkungan agar tetap nyaman dan indah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Penanaman nilai-nilai keimanan, mu’amalah, dan akhlak yang berkaitan dengan aspek pola perilaku manusia dengan alam secara normatif terlihat pada materi pelajaran IPA dan sains yang telah dikembangkan dan dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang pentingnya memelihara dan menjaga kelestarian alam dan larangan merusaknya. Secara aplikatif penanaman nilai-nilai mu’amalah yang berkaitan dengan sikap dan perilaku siswa kepada lingkungan alam terlihat diberikan melalui pembagian jadwal piket harian siswa dalam menjaga kebersihan ruangan kelas di masing-masing kelas (Lukman Hakim, 2012).
Dalam sejarah intelektual Islam, perkembangan sains dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari konteks implementasi nilai-nilai religiusitas. Dalam hal ini ada dua kata kunci untuk memahami hubungan antara perkembangan sains dan teknologi dengan nilai-nilai religiusitas dalam Islam, yaitu: tafakur dan tasykir.
Tafakur, dalam konteks IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), adalah berefleksi, berpikir tentang dan menemukan hukum-hukum alam. Sedangkan tasykir adalah memperoleh penguasaan atas alam dengan bantuan sains dan teknologi. Kedua terma tersebut, dalam sejarah umat Islam sepanjang zaman, merupakan dorongan-dorongan terpadu seluruh umat manusia.
Adalah keagungan Islam pula bahwa Al-Qur’an, dengan perintah yang diulang berkali-kali, mengandung suruhan untuk ber-tafakur dan ber-tasykir dalam konteks untuk mengejar, menguasai, dan mengamalkan sains dan teknologi sebagai kewajiban atas masyarakat Muslim. Umat Islam juga telah mengenal kredo yang memadukan antara amal saleh dengan sains dan teknologi, yaitu: “ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah”.
Hubungan antara Islam sebagai agama dengan IPA dan teknologi sebagai buah kreatifitas pikiran dan praktek umat manusia, dalam hal ini ada 5 (lima) pendekatan yang dapat dikedepankan sebagai berikut:
1.      Bahwa Islam sesungguhnya adalah agama yang sangat mendorong, membangkitkan, merangsang, dan mengilhami penemuan IPA dan teknologi. Pernyataan Abdus Salam yang dikutip di atas merupakan contoh pendekatan ini. Pendekatan ini juga sudah sering dilakukan oleh banyak orang. Kitab-kitab di Pesantren – sejak “Kitab al-Ilmi” dalam Miftah al-Khitabah wa al-Wa’zh, atau “Kitab al-Ilmi” dalam Tafsir al-Wushul, sampai “Kitab al-Ilmi” dalam Ihya Ulumuddin – banyak membicarakan hal ini dengan merujuk kepada Al-Quran dan Al-Hadist.\
2.      Dalam perspektif sejarah, Islam juga telah begitu banyak memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam pengembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Inipun sudah banyak dibicarakan, mulai dari Jabir Ibnu Hayyan dan Al-Kindi pada zaman dahulu sampai dengan Abdus Salam sendiri pada zaman terkini.
3.      Ada hubungan yang sangat erat antara falsafi, Islam, dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Islam tidak hanya memberikan landasan aksiologis, tetapi juga sampai pada epistemologi dan ontologi dalam sains dan teknologi.
4.      Ada bentuk IPTEK yang Islami atau justru IPTEK merupakan hasil ikhtiar dan ibadah manusia dengan Islam sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi umat manusia bagi kemajuan, kesejahteraan, dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
5.      Islam dan IPTEK merupakan dua hal yang sangat harmonis dan akan saling mendukung untuk terus berkembang pada setiap episod sejarah kehidupan manusia.
Islam, dengan kitab suci Al-Qur’an, sesungguhnya memberikan etika dan tujuan pengembangan IPTEK yang secara sistematis dapat dibagi dua. Pertama, untuk membantu manusia mendekatkan diri kepada Allah SWT (Subhanu Wa Ta’ala); dan kedua, untuk membantu manusia menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi (Ghulsyani, 1986).
Islam adalah agama yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam hal pengkajian berbagai fenomena alam. Beberapa ilmuwan Muslim yang telah mengukir namanya dalam sejarah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), seperti Jabir Ibnu Hayyan dan Al-Kindi, adalah merupakan bukti tentang bagaimana Islam sebagai agama universal yang sangat hirau dengan pengembangan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan dengan kesempurnaan akal pikirannya, di dalam ajaran Islam, dianjurkan untuk membaca ayat-ayat yang tersirat lewat fenomena dan keteraturan alam. Dengan kajian-kajiannya yang kemudian menjadi IPA dan terderivasikan dalam wujud teknologi, kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan sejahtera. Dengan mengetahui dan merenungi berbagai keteraturan dan fenomena alam yang ada akan menimbulkan keimanan, ketakwaan, dan kesadaran rohaniyah dalam diri manusia bahwa betapa kecilnya makhluk manusia dan betapa besarnya Tuhan sebagai pencipta alam semesta serta segala isinya.
Agama Islam adalah agama keselamatan. Agama Islam telah memberi pilihan dan panduan kepada manusia tentang jalan hidup yang akan dilaluinya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan lebih bijaksana untuk menentukan pilihan-pilihan hidup: “Hidup dengan pengembangan ilmu atau tidak. Hidup dengan ajaran Islam atau tidak. Dan hidup dengan pengembangan ilmu yang didasari ajaran Islam atau tidak”. Dengan demikian harus dilakukan pengkajian fenomena alam dalam rangka pengembangan IPA dalam konteks mempertebal iman, takwa, dan sikap rohaniyah kepada Tuhan dengan berpijak pada sejarah bagaimana kejayaan Islam dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan sejak zaman pertengahan hingga sekarang adalah merupakan kesinambungan dan perubahan.
Jadi, unifikasi antara pendidikan agama islam dengan ilmu pengetahuan alam akan sangat sesuai dengan segala sesuatu yang terjadi di dunia kini, mengingat betapa cepatnya perkembangan pemikiran yang dilakukan oleh manusia. Sehingga sangat jelas bagaimana antara pendidikan agama islam dan ilmu pengetahuan alam tidak bisa dipisahkan begitu saja, mengingat betapa sakralnya islam, dan betapa vitalnya pengetahuan tentang kehidupan manusia ini. Oleh karena itu, proses penyatuan pendidikan agama islam dengan ilmu pengetahuan harus direalisasikan kepada semua kalangan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Djudin, Tomo. Menyisipkan Nilai-Nilai Agama dalam Pembelajaran Sains: Suatu Alternatif “Memagari” Keimanan Siswa. http://jurnal.untan.ac.id, 13 April 2014.
Hakim, Lukman, 2012. Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Pembentukan Sikap dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya. Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, Vol. 10, No. 1.
Nahadi, Muhammad, Farida Sarimaya, dan Sri R Rosdianti, 2011. Hubungan Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Perspektif Sejarah. Atikan, Volume 1, No. 1. http://atikan-jurnal.com/wp-content/uploads/2011/05/02.hadi_.ida_.sri_.atikan.jun_.11.pdf, 12 April 2014.
Nasrurrohman, Muhammad, 2010. Merubah Peradaban dengan Pendidikan Islam. http://www.jurnalanas.com, 12 April 2014.

Soedewo, 2007. Islam dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah. http://aaiil.org/indonesia/indonesianbooksislamahmadiyya/soedewo/islamilmupengetahuan/islamilmupengetahuanislamsciences.pdf, 12 April 2014.

0 komentar:

Posting Komentar